Pages

Sabtu, 08 Desember 2012

Waspada dengan Amal kita

Perasaan Cukup dan Aman dalam Amal

Ulama mengatakan bahwa Allah telah menyembunyikan Ridhonya dalam amal-amal agama. Namun amal sholeh mana yang telah di ridhoi Allah, ini hanya Allah yang mengetahuinya. Semua amal yang kita kerjakan ini tidak ada jaminannya disisi Allah karena itu tergantung pada kesempurnaan amalnya dan keikhlasannya. Untuk ukuran ini penerimaan amal ini hanya Allahlah yang mengetahuinya. Ada 3 perkara yang kita tidak mengetahui dalam amal :
1.   Kita tidak tahu apakah amal ibadah kita diterima atau tidak, jadi jangan pernah merasa aman.
2.   Kita tidak tahu amal baik mana yang bisa mendatangkan ridho Allah.
3.   Kita tidak tahu amal buruk mana yang menyebabkan kita mendapatkan murka Allah.

Kisah-kisah :
1.  Pernah ada seorang ahli ibadah di jaman Nabi Musa AS yang kerjanya selama 300 tahun hanya beribadah saja kepada Allah. Suatu hari ketika dia meminta kepada Nabi Musa untuk menanyakan kepada Allah surga mana yang Allah berikan sebagai balasan terhadap ibadahnya. Lalu Allah menjawabnya melalui Nabi Musa AS bahwa dia itu adalah penghuni Neraka.

2.  Pernah ada seorang pelacur di jaman Nabi Musa AS ketika dia kelelahan setelah melewati perjalanan yang panjang dan kehausan. Lalu dia dapati ada sumur air di tempat dekat dia beristirahat. Setelah bersusah payah dia masuk kedalam sumur mengambil air dengan sepatunya, lalu ketika keluar didapatinya seekor anjing kecil sedang kehausan. Lalu karena kasihan melihat anjing kecil itu maka diberikanlah air tersebut kepada anjing kecil itu. Asbab kejadian ini Allah telah ridho kepada pelacur tersebut dan mengampuni seluruh dosanya, lalu memasukkannya ke dalam SurgaNya Allah Ta’ala.

3.  Ada di jaman Nabi SAW seorang perempuan tua ahli ibadah, yang sudah menghabiskan banyak waktunya hanya untuk beribadah kepada Allah. Namun si nenek tua ini mempunyai kebiasaan suka melalaikan kucing peliharaannya dari memberikannya makanan. Akibat dari perbuatannya ini akhirnya kucing peliharaannya yang di ikat dan dikurung tersebut mati kelaparan. Maka apa kata Nabi SAW mahfum bahwa nenek tua itu adalah penghuni neraka.

4. Kisah Nabi SAW :
Suatu ketika Nabi SAW selepas sholat berdo’a menangis hingga kesedihannya terasa oleh istrinya Ummu Salamah. Lalu Ummu Salamah bertanya, “Ya Rasullullah, mengapa engkau menangis memohon ampunan padahal engkau telah di jamin Surganya oleh Allah.” Lalu Nabi SAW menjawab dengan tegas, “Siapakah yang bisa menjaminku wahai istriku ? Sedangkan saudaraku Nabi Yunus AS ketika dia bersandar pada amalnya sesaat saja, dia merasa aman terhadap amalnya, Allah kurung dia dalam perut Ikan Paus selama 40 hari.” Nabi saja Allah hukum di dalam laut karena tidak ada risau terhadap amalnya. Padahal nabi Yunus AS hanya bersandar sesaat saja dari amalnya. Nabi Yunus AS meninggalkan ummatnya mencari tempat yang lebih baik untuk dakwah pada kaum yang lain. Nabi Yunus AS tidak merasa khawatir dengan perbuatannya meninggalkan kaumnya ketika itu. Nabi Yunus merasa aman dan tidak ada kekhawatiran terhadap amalnya tersebut. Padahal Allah perintahkan dia untuk tetap di kampung tersebut. Sesaat merasa aman dari amalnya, Allah kurung Nabi Yunus di dalam perut ikan paus, hingga dia bertobat kepada Allah.

5. Kisah Umar bin Khattab RA :
Umar RA adalah seorang sahabat yang termasuk dalam 10 orang sahabat  yang telah di jamin Surganya oleh Allah Ta’ala. Suatu ketika umar RA bertemu dengan Hudzaifah RA yaitu penyimpan rahasia Nabi SAW. Umar RA bertanya kepada Hudzaifah RA, “Wahai Hudzaifah, aku tidak peduli apakah ada orang-orang munafik yang kerja untukku ataupun orang lain yang telah jelas kemunafikkannya. Namun Aku hanya mau bertanya satu hal kepadamu Apakah Aku termasuk  golongan orang-orang yang Munafiq yang dikabarkan oleh Nabi SAW.” Ini adalah Risaunya Umar RA, yang Surganya telah di jamin oleh Nabi SAW. Walaupun begitu tetap Umar RA selalu dalam keadaan khawatir terhadap amal-amalnya bukannya dalam keadaan aman. Padahal kalau kita lihat amalnya Umar RA, sudah seharusnya dia merasa aman, tetapi hingga menjelang ajalnya pun dia masih dalam keadaan selalu merasa khawatir atas amal-amalnya. Umar RA di tanya oleh Abbas RA menjelang wafatnya, “Apalagi yang engkau risaukan wahai Umar, sedangkan Allah dan Nabinya sudah menjamin keberadaanmu di Surga.” Lalu Umar RA menjawab, “Jika aku mempercayai perkataanmu, maka aku ini sungguhlah orang yang bodoh. Andai kata seluruh umat ini masuk surga dan satu orang masuk ke dalam neraka, maka aku khawatir yang satu orang masuk ke dalam neraka itu adalah aku. Jika seluruh manusia masuk ke dalam neraka dan hanya satu orang masuk ke dalam Surga, Aku berharap agar orang itu adalah Aku.” Menjelang ajalnyapun, Umar RA masih dalam keadaan harap dan cemas terhadap amalnya. Apalagi kita saat ini yang sudah jelas-jelas tidak ada jaminannya dari Allah Ta’ala dan NabiNya.

 Jadi pada intinya kita tidak tahu amal baik mana yang Allah terima walaupun kita ahli maksiat dan amal buruk mana yang bisa menyebabkan murka Allah atas diri kita walaupun kita adalah ahli ibadah. Untuk perkara ini kita perlu menjaga sifat harap dan cemas kita. Karena Nabi SAW pun yang sudah di jamin surganya oleh Allah tidak pernah merasa aman atas amal-amalnya.

Lalu ada yang mengatakan, kalau begitu tak usah beramal saja, toh belum tentu diterima Allah..
Itu adalah pernyataan bodoh...
Kalau mereka para Nabi, Sahabat yang ketakwaannya sudah tidak diragukan oleh seluruh isi dunia, masih merasa waspada akan amalnya, lalu dimana kira-kira orang-orang yang tak memiliki amal atau malah banyak kemaksiatan yang dikerjakan akan ditempatkan nantinya?

Kita hanya bisa memperbaiki diri. Terus berbuat kebaikan dan berdoa agar Allah menerima segala amal ibadah kita...
Waallahualam..

-menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari-

0 komentar:

Posting Komentar