Resensi Buku Mencari Mutiara di Dasar Hati
Karya: Muhammad Nursani
Buku ini most ayu wanted, karena sampai sekarang belum saya temui. Bagi yang memiliki nya lebih, ataupun tau dimana bisa membeli buku ini, harap hubungi saya.
Buku ‘Mencari Mutiara di Dasar Hati’ merupakan
kumpulan artikel dari rubrik 'Ruhaniyat' majalah Tarbawi yang sangat
istimewa. Ketika artikel dari rubrik tersebut dihimpun menjadi 'sebuah
buku' hasilnya, sungguh luar biasa! Betapa kita dapat berkaca dengan isi
demi isi dari buku ini.
Sungguh menyentuh bagi kita yang memang benar-benar masih peduli dengan
kemurnian hati. Dipadu dengan sumber dari Alquran serta hadits dari
Rasulullah SAW, sirah Nabi-Nabi ataupun para sahabat Radiyallahu Anhu. Selamat Membaca.
“Jika engkau menghadapi dunia dengan jiwa lapang, engkau akan memperoleh
banyak kegembiraan yang semakin lama semakin bertambah, semakin luas,
duka yang makin mengecil dan menyempit. Engkau harus tahu bahwa bila
duniamu terasa sempit, sebenarnya jiwamulah yang sempit, bukan dunianya”
(Ar Rafi’I, Wahyul Qalam, 1/50)
Biduk kebersamaan kita terus berjalan. Dia telah menembus belukar,
menaiki tebing, membelah laut. Adakah diantara kita yang tersayat atau
terluka? Sayatan luka, rasa sakit, air mata adalah bagian dari jalan
yang sedang kita lalui. Dan kita tidak pernah berhenti menyusurinya,
mengikuti arus waktu yang juga tak pernah berhenti.
Kita tak pernah berhenti karena menderita oleh keadaan seperti itu. Di
jalan ini, “Rasa sakit telah menjadi kenikmatan, pengorbanan menjadi
indah dan jiwa menjadi tidak berharga”. Kata itu yang pernah diucapkan
seorang pejuang Palestina terkenal yang telah gugur, Mahmud Abu Hanud.
Tujuan yang kita tetapkan dalam kebersamaan terbukti telah menjadikan
kita lebih kuat, tabah, kokoh menghadapi rintangan apapun juga.
Dalam perjalanan dakwah yang panjang, kita memerlukan satu bekal yaitu
sikap lapang dada, nafas panjang dan mudah memaafkan. Seperti
orang-orang shalih terdahulu yang tak peduli dengan suasana getir yang
mereka terima dalam menjalankan ketaatan. Seperti para pejuang yang tak
pernah tersengal-sengal oleh kejaran musuh-musuhnya di Jalan Allah.
Seperti Rasulullah SAW yang tak pernah merasa tertekan dengan penghinaan
atau cacian orang-orang sekirarnya, dalam menjalani misi kenabiannya.
Sungguh luar biasa sikap orang-orang shalih dalam memandang dan mengukur
penghinaan orang lain terhadap dirinya. Ibrahim An Nakh’I, suatu hari
berjalan bersama sahabatnya, seorang buta. Setelah beberapa lama
menyusuri jalan, orang buta itu mengatakan, “Ya Ibrahim, orang-orang
yang melihat kita mengatakan, “itu orang buta dan pincang”. Ibrahim
dengan tenang lalu mengatakan, “Kenapa engkau begitu terbebani
memikirkannya? Jika mereka berdosa karena menghina kita sedangkan kita
mendapat pahala, lalu kenapa?
Fudhail bin Iyadh, tokoh ulama yang terkenal ketaqwaannya di zaman
generasi Tabi’in bercerita bahwa suatu ketika saat berada di Masjidil
Haram, ia didatangi seseorang yang menangis. Fudhail bertanya, “kenapa
engkau menangis?” Orang itu menjawab, “Aku kehilangan beberapa dinar dan
aku tahu ternyata uangku dicuri”.
Fudhail mengatakan “Apakah engkau menangis hanya karena dinar? Sungguh
mengejutkan jawaban orang itu. Ia menjawab, ”Tidak, aku menangis karena
aku tahu bahwa kelak aku akan berada di hadapan Allah, dengan pencuri
itu. Aku kasihan dengan pencuri itu, itulah yang menyebabkan aku
menangis…”
Mereka yang dirahmati Allah, menyikapi berbagai persoalan dengan lapang
dada. Mungkin saja mereka berduka, bersedih, kecewa atau barangkali
tersulut sedikit kemarahannya. Tetapi mereka berhasil menguasai hatinya
kembali. Hati mereka tetap ridha, mata mereka tetap teduh, ketenangan
mereka sama sekali tidak terusik. Betapa indahnya.
Kisah-kisah itu harusnya membuat kita mengerti bahwa jika kita tidak
lapang dada dan tidak mudah bersabar, kita pasti akan menjadi orang yang
paling menderita didunia ini sebab penderitaan terbesar adalah jiwa
yang cepat goyah dan bimbang saat menghadapi sesuatu yang sebenarnya
remeh.
Penderitaan paling berbahaya adalah ketika tujuan hidup kita yang
demikian agung, terbentur oleh keadaan hidup yang sesungguhnya sepele.
Persoalan remeh, yang kita lihat secara keliru, kemudian mengakibatkan
sempitnya dada, nafas tersengal, kesal hati, murung wajah, hati yang
bergemuruh duka cita hingga istirahat terganggu, pikiran tidak tentu
arah.
JIka itu yang terjadi, takkan ada amal-amal besar yang bisa dilakukan.
Lantaran amal-amal besar hanya lahir dari jiwa yang tenang, hati yang
lapang, penuh ridha, pikiran yang jernih. Itu sebabnya Syaikh Musthafa
Masyhur mensyaratkan sifat ‘nafasun thawiil’ atau nafas panjang yang
harus ada dalam diri pejuang Islam. Baginya, jalan perjuangan yang
terjal dan panjang tak mungkin bisa dilewati oleh orang-orang yang
ber’nafas pendek’ alias mudah goyah dan tidak sabar.
Apa rahasia lapang dada yang dimiliki para salafushalih itu? Salahsatunya karena wawasan hidup mereka yang luas. Orang yang
sempit wawasan adalah orang yang takut dengan perkara-perkara kecil,
sangat takut dengan peristiwa remeh dan mudah marah dengan kata-kata
yang tidak berkenan di hatinya.
Kita bisa seperti mereka. Jika kita tahu dan sadar ada sasaran besar dan
tujuan maha agung yang akan kita capai bersama di ujung jalan ini. Ada
yang maha penting dari peristiwa-peristiwa apapun dijalan ini. Ada yang
maha mulia dari berbagai kejadian-kejadian apapun di jalan ini.
Dari buku: “MENCARI MUTIARA DI DASAR HATI” Catatan Perenungan Ruhani Seri I, karya: Muhammad Nursani (Tarbawi Press)
Bukankah jalan ini sangat panjang dan berliku, ada saja onak duri yang menghalangi, ada saja kenikmatan duniawi yang begitu menggoda, sehingga kita(aku) sering tanpa disadari masuk kedalamnya..
Ya Rabbi kekalkanlah cinta ini hanya untukMu...
Tunjukkan kami jalan yang lurus..
Perbaiki ruhiyah kami..
Jaga keistiqomahan kami..
dan tetapkanlah kami bersama orang-orang yang mencintaiMu..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusistimewa...
BalasHapus