Oleh : Siti Ayu Kumala (Kadis Eksternal BEM FKIP Unila 10/11)
Mahasiswa adalah perubahan yang sangat signifikan dari statusnya sebagai siswa. Jika dilihat secara substantif ada hal yang mendasar dari perubahan identitas tersebut( siswa menjadi mahasiswa), karena identitas kemahasiswaan menuntut seseorang untuk memiliki jiwa kemandirian, tanggung jawab sosial dan berbagai tugas baru yang sangat berbeda dengan kelompok masyarakat lainnya.
Menjadi mahasiswa, tidak serta merta menjadikan seorang pemuda lepas dari tugas pembelajaran yang telah 12 tahun dijalaninya, malah semakin banyak tugas studi yang harus dilaksanakan oleh seorang “Mahasiswa”.
Selain menjadi seorang ilmuwan, baik eksak maupun sosial, mahasiswa berperan penting sebagai penggerak masyarakat. Hal ini dilakukan oleh mahasiswa dengan istilah “pergerakan mahasiswa”.
Orang awam menyatakan kalau mahasiswa hanya bisa berbicara tanpa adanya solusi. Sebuah pernyataan yang miris namun tidak dapat dipersalahkan juga. Kenyataannya memang banyak mahasiswa yang memilih berdemo untuk menyalurkan aspirasinya. Terkadang sangat disayangkan kalau demo yang tadinya bermaksud untuk menyampaikan aspirasi dan membangun opini publik berujung pada tindakan anarkis yang sangat tidak menunjukkan kehormatan seorang mahasiswa. Pergerakkan mahasiswa saat ini sudah mulai berkembang pesat dengan adanya peran MEDIA lebih tepatnya media massa. Salah satu perantara terdahsyat yang dapat menyambungkan aspirasi mahasiswa dan opini masyarakat. Media memiliki fungsi yang turut menentukan besar atau tidaknya suatu pergerakan, bahkan turut menentukan eksis atau tidaknya suatu badan pergerakan.
Lalu benarkah peran media massa sedemikian besar? Jawabannya dapat dilihat dari analogi peristiwa-peristiwa berikut ini: Orang-orang tidak akan tau bahwa Indonesia telah merdeka jika tidak ada radio Antara dan media massa lainnya yang mempublikasikannya saat itu. Kita tidak akan mengetahui cerita RA Kartini jika surat-suratnya tidak dipublikasikan ke masyarakat. Gerakan fenomenal Hasan Al- Banna takkan bisa kita teladani tanpa publikasi internasional mengenai dirinya. Dalam sekejap seseorang dapat menjadi bintang yang fenomenal namun dalam sekejap pula terlupakan karena publikasi media massa. Begitu besarnya peran media massa bagi masyarakat. Maka begitu besarnya peran Media bagi pergerakan mahasiswa.
Mengutip tulisan dari alah seorang aktivis mahasiswa yang berkecimpung dalam gerakan mahasiwa, menurutnya peran komunikasi dalam pembangunan adalah sebagai sebagai pendorong terjadinya suatu perubahan sosial dalam masyarakat. Komunikasi diharapkan berperan dalam menyebarluaskan sejumlah inovasi dalam rangka menumbuhkan dan menggerakkan sekelompok masyarakat agar memiliki motivasi kearah kemajuan. Seperti yang kita ketahui bersama, pembangunan Indonesia sebagian besar dilatarbelakangi oleh modal asing yang mengakibatkan bertumpuknya hutang Indonesia. Merupakan tugas mahasiswalah untuk menyadarkan masyarakat tentang bahaya kapitalisme ini. Gerakan mahasiswa yang dilakukan melalui seminar, aksi, ataupun kongres merupakan bentuk penyadaran kepada masyarakat agar dapat hidup lebih baik.
Bagaimana cara agar ide dan aspirasi kita dapat didengar setidaknya bagi masyarakat kampus? Media masalah jawabannya. Ilmu komunikasi lahir ketika suatu penemuan menjadi tidak berguna jika tidak ada yang mengetahui. Begitu pula dengan sebuah perubahan, tidak akan menjadi sebuah “perubahan” jika tidak ada yang mengetahui suatu perubahan ini. Dan media massa, dapat melakukannya hanya dalam hitungan detik seiring perkembangan teknologi komunikasi dewasa ini.
Tidak kalah penting, sebagaimana disebutkan diatas, media juga turut menentukan seberapa berpengaruhnya sebuah issue yang diangkat mahasiswa. Contoh yang baru-baru ini terjadi adalah berita mengenai demo yang dilakukan segelintir mahasiswa terhadap penganugrahan gelar Doktor kepada Sutiyoso. Media mempunyai kekuatan dan kekuasaan tersendiri untuk mengeksekusi suatu issue yang sampai ke tangan mereka. Pernyataan segelintir mahasiwa itu bahkan dapat menjadi pemberitaan nasional yang membuka pemikiran publik.
Maka selayaknya para aktivis pergerakan mahasiswa lebih mengefektifkan penggunaan media. Media dapat ‘menciptakan’ realitas yang disorot publik bahkan dalam hitungan detik. Sudah bukan jamannya lagi mahasiswa berkoar-koar tanpa solusi di depan gedung pemimpin, yang bahkan tak ingin melihat keberadaan kita. Meskipun cara itu masih bisa digunakan untuk menunjukkan eksistensi mahasiswa, namun media lebih efektif untuk menarik respon masyarakat. Jalin hubungan yang baik dengan pihak media, namun jangan terjerumus dalam permainan media. Kuasai ilmu media, bahkan menjadi seorang jurnalis atau editor. Kuasai teknologi yang berhubungan dengan media seperti desain grafis dan sistem network internet. Jadilah aktivis pergerakan mahasiswa yang menguasai media sehingga dapat memberi pemahaman kepada masyarakat. Pemahaman yang benar ini lah yang ditunggu masyarakat sebagai bukti eksistensi dari mahasiswa. Hal ini harus terus dilakukan mahasiswa sebagai penerus peradaban demi kemajuan bangsa yang kita cintai ini.Tetap berpikir merdeka!