Pages

Minggu, 23 Desember 2012

Dia...


Dia hanya dia di duniaku
Dia hanya dia di mataku
Dunia terasa telah menghilang
Tanpa ada dia di hidupku

Sungguh sebuah tanya yang terindah
Bagaimana dia merengkuh sadarku
Tak perlu ku bermimpi yang indah
Karena ada dia di hidupku
Ku ingin dia yang sempurna (yang sempurna)
Untuk diriku yang biasa (yang biasa)
Ku ingin hatinya, ku ingin cintanya
Ku ingin semua yang ada pada dirinya
Ku hanya manusia biasa (yang biasa)
Tuhan bantu ku tuk berubah (untuk berubah)
Tuk miliki dia, tuk bahagiakannya
Tuk menjadi seorang yang sempurna untuk dia
Ku ingin dia yang sempurna (yang sempurna)
Untuk diriku yang biasa
Ku ingin hatinya, ku ingin cintanya
Ku ingin semua yang ada pada dirinya
Ku hanya manusia biasa (yang biasa)
Tuhan bantu ku tuk berubah (tuk berubah)
Tuk miliki dia, tuk bahagiakannya
Tuk menjadi seorang yang sempurna untuk dia

*gimana kalo kita balik lagunya dia yang biasa untuk aku yang sempurna...
:D

Terimakasih telah mempercayaiku

20 Desember 2012

Hari ini, tepatnya pukul 09.30 tadi, aku mengisi suatu materi di training kepemimpinan tingkat dasar di SMA 3 Kotabumi, almamater ku tercinta. Tak banyak yang berubah dari sekolah ku ini, gedung yang sama, halaman yang sama, dan wangi yang sama. Wangi sekolah yang penuh dedaunan, tempatku merajut asa dan berbagi cerita kehidupan bersama teman-teman dulu...5 setengah tahun yang lalu..

Luar biasa menggelegar...subhanallah,, perasaan itu yang aku simpulkan dari semangat para peserta training hari ini. Semoga Allah senaniasa memelihara semangat itu dalam diri kalian wahai adik-adik penerus estafet perjuangan para Nabi...

Nerves, tentu..tak banyak yang telah ku persiapkan untuk mengisi acara hari ini. Jika aku diminta mengajar fisika, tak usah banyak hal yang ku persiapkan...tapi mengisi training manajemen kali ini...aku tak pernah sebelumnya..
Bismillah...Allah selalu bersama orang-orang yang mau memperbaiki diri.

Materi yang kusampaikan adalah tentang manajemen rohis, pernak-pernik dalam rohis dan bagaimana mengatasi permasalahannya, juga berbagai simulasi.

Diakhir penyampaian materiku...kembali aku tekankan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, dan Allah yang akan menyelesaikan semuanya..maka Energi Ruhiyah adalah sebuah keniscayaan, kembalikan semua dengan bersujud kepada Allah. Kembali mendekatkan diri kepada Allah yang menguasai segala sesuatu.

Bagi teman-teman yang ingin mendownload materi acara hari ini, silahkan klik link dibawah ini
manajemen rohis

Bagi teman-teman yang ingin mengenalku lebih jauh, berbagi pengalaman yang bermanfaat silahkan klik link dibawah ini
profilku

Semoga bermanfaat buat teman-teman..
^^

Sabtu, 08 Desember 2012

Waspada dengan Amal kita

Perasaan Cukup dan Aman dalam Amal

Ulama mengatakan bahwa Allah telah menyembunyikan Ridhonya dalam amal-amal agama. Namun amal sholeh mana yang telah di ridhoi Allah, ini hanya Allah yang mengetahuinya. Semua amal yang kita kerjakan ini tidak ada jaminannya disisi Allah karena itu tergantung pada kesempurnaan amalnya dan keikhlasannya. Untuk ukuran ini penerimaan amal ini hanya Allahlah yang mengetahuinya. Ada 3 perkara yang kita tidak mengetahui dalam amal :
1.   Kita tidak tahu apakah amal ibadah kita diterima atau tidak, jadi jangan pernah merasa aman.
2.   Kita tidak tahu amal baik mana yang bisa mendatangkan ridho Allah.
3.   Kita tidak tahu amal buruk mana yang menyebabkan kita mendapatkan murka Allah.

Kisah-kisah :
1.  Pernah ada seorang ahli ibadah di jaman Nabi Musa AS yang kerjanya selama 300 tahun hanya beribadah saja kepada Allah. Suatu hari ketika dia meminta kepada Nabi Musa untuk menanyakan kepada Allah surga mana yang Allah berikan sebagai balasan terhadap ibadahnya. Lalu Allah menjawabnya melalui Nabi Musa AS bahwa dia itu adalah penghuni Neraka.

2.  Pernah ada seorang pelacur di jaman Nabi Musa AS ketika dia kelelahan setelah melewati perjalanan yang panjang dan kehausan. Lalu dia dapati ada sumur air di tempat dekat dia beristirahat. Setelah bersusah payah dia masuk kedalam sumur mengambil air dengan sepatunya, lalu ketika keluar didapatinya seekor anjing kecil sedang kehausan. Lalu karena kasihan melihat anjing kecil itu maka diberikanlah air tersebut kepada anjing kecil itu. Asbab kejadian ini Allah telah ridho kepada pelacur tersebut dan mengampuni seluruh dosanya, lalu memasukkannya ke dalam SurgaNya Allah Ta’ala.

3.  Ada di jaman Nabi SAW seorang perempuan tua ahli ibadah, yang sudah menghabiskan banyak waktunya hanya untuk beribadah kepada Allah. Namun si nenek tua ini mempunyai kebiasaan suka melalaikan kucing peliharaannya dari memberikannya makanan. Akibat dari perbuatannya ini akhirnya kucing peliharaannya yang di ikat dan dikurung tersebut mati kelaparan. Maka apa kata Nabi SAW mahfum bahwa nenek tua itu adalah penghuni neraka.

4. Kisah Nabi SAW :
Suatu ketika Nabi SAW selepas sholat berdo’a menangis hingga kesedihannya terasa oleh istrinya Ummu Salamah. Lalu Ummu Salamah bertanya, “Ya Rasullullah, mengapa engkau menangis memohon ampunan padahal engkau telah di jamin Surganya oleh Allah.” Lalu Nabi SAW menjawab dengan tegas, “Siapakah yang bisa menjaminku wahai istriku ? Sedangkan saudaraku Nabi Yunus AS ketika dia bersandar pada amalnya sesaat saja, dia merasa aman terhadap amalnya, Allah kurung dia dalam perut Ikan Paus selama 40 hari.” Nabi saja Allah hukum di dalam laut karena tidak ada risau terhadap amalnya. Padahal nabi Yunus AS hanya bersandar sesaat saja dari amalnya. Nabi Yunus AS meninggalkan ummatnya mencari tempat yang lebih baik untuk dakwah pada kaum yang lain. Nabi Yunus AS tidak merasa khawatir dengan perbuatannya meninggalkan kaumnya ketika itu. Nabi Yunus merasa aman dan tidak ada kekhawatiran terhadap amalnya tersebut. Padahal Allah perintahkan dia untuk tetap di kampung tersebut. Sesaat merasa aman dari amalnya, Allah kurung Nabi Yunus di dalam perut ikan paus, hingga dia bertobat kepada Allah.

5. Kisah Umar bin Khattab RA :
Umar RA adalah seorang sahabat yang termasuk dalam 10 orang sahabat  yang telah di jamin Surganya oleh Allah Ta’ala. Suatu ketika umar RA bertemu dengan Hudzaifah RA yaitu penyimpan rahasia Nabi SAW. Umar RA bertanya kepada Hudzaifah RA, “Wahai Hudzaifah, aku tidak peduli apakah ada orang-orang munafik yang kerja untukku ataupun orang lain yang telah jelas kemunafikkannya. Namun Aku hanya mau bertanya satu hal kepadamu Apakah Aku termasuk  golongan orang-orang yang Munafiq yang dikabarkan oleh Nabi SAW.” Ini adalah Risaunya Umar RA, yang Surganya telah di jamin oleh Nabi SAW. Walaupun begitu tetap Umar RA selalu dalam keadaan khawatir terhadap amal-amalnya bukannya dalam keadaan aman. Padahal kalau kita lihat amalnya Umar RA, sudah seharusnya dia merasa aman, tetapi hingga menjelang ajalnya pun dia masih dalam keadaan selalu merasa khawatir atas amal-amalnya. Umar RA di tanya oleh Abbas RA menjelang wafatnya, “Apalagi yang engkau risaukan wahai Umar, sedangkan Allah dan Nabinya sudah menjamin keberadaanmu di Surga.” Lalu Umar RA menjawab, “Jika aku mempercayai perkataanmu, maka aku ini sungguhlah orang yang bodoh. Andai kata seluruh umat ini masuk surga dan satu orang masuk ke dalam neraka, maka aku khawatir yang satu orang masuk ke dalam neraka itu adalah aku. Jika seluruh manusia masuk ke dalam neraka dan hanya satu orang masuk ke dalam Surga, Aku berharap agar orang itu adalah Aku.” Menjelang ajalnyapun, Umar RA masih dalam keadaan harap dan cemas terhadap amalnya. Apalagi kita saat ini yang sudah jelas-jelas tidak ada jaminannya dari Allah Ta’ala dan NabiNya.

 Jadi pada intinya kita tidak tahu amal baik mana yang Allah terima walaupun kita ahli maksiat dan amal buruk mana yang bisa menyebabkan murka Allah atas diri kita walaupun kita adalah ahli ibadah. Untuk perkara ini kita perlu menjaga sifat harap dan cemas kita. Karena Nabi SAW pun yang sudah di jamin surganya oleh Allah tidak pernah merasa aman atas amal-amalnya.

Lalu ada yang mengatakan, kalau begitu tak usah beramal saja, toh belum tentu diterima Allah..
Itu adalah pernyataan bodoh...
Kalau mereka para Nabi, Sahabat yang ketakwaannya sudah tidak diragukan oleh seluruh isi dunia, masih merasa waspada akan amalnya, lalu dimana kira-kira orang-orang yang tak memiliki amal atau malah banyak kemaksiatan yang dikerjakan akan ditempatkan nantinya?

Kita hanya bisa memperbaiki diri. Terus berbuat kebaikan dan berdoa agar Allah menerima segala amal ibadah kita...
Waallahualam..

-menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari-

Minggu, 02 Desember 2012

Mencari Mutiara Di Dasar Hati

Resensi Buku Mencari Mutiara di Dasar Hati
Karya: Muhammad Nursani

Buku ini most ayu wanted, karena sampai sekarang belum saya temui. Bagi yang memiliki nya lebih, ataupun tau dimana bisa membeli buku ini, harap hubungi saya.

Buku ‘Mencari Mutiara di Dasar Hati’ merupakan kumpulan artikel dari rubrik 'Ruhaniyat' majalah Tarbawi yang sangat istimewa. Ketika artikel dari rubrik tersebut dihimpun menjadi 'sebuah buku' hasilnya, sungguh luar biasa! Betapa kita dapat berkaca dengan isi demi isi dari buku ini.

Sungguh menyentuh bagi kita yang memang benar-benar masih peduli dengan kemurnian hati. Dipadu dengan sumber dari Alquran serta hadits dari Rasulullah SAW, sirah Nabi-Nabi ataupun para sahabat Radiyallahu Anhu. Selamat Membaca.

“Jika engkau menghadapi dunia dengan jiwa lapang, engkau akan memperoleh banyak kegembiraan yang semakin lama semakin bertambah, semakin luas, duka yang makin mengecil dan menyempit. Engkau harus tahu bahwa bila duniamu terasa sempit, sebenarnya jiwamulah yang sempit, bukan dunianya” (Ar Rafi’I, Wahyul Qalam, 1/50)

Biduk kebersamaan kita terus berjalan. Dia telah menembus belukar, menaiki tebing, membelah laut. Adakah diantara kita yang tersayat atau terluka? Sayatan luka, rasa sakit, air mata adalah bagian dari jalan yang sedang kita lalui. Dan kita tidak pernah berhenti menyusurinya, mengikuti arus waktu yang juga tak pernah berhenti.

Kita tak pernah berhenti karena menderita oleh keadaan seperti itu. Di jalan ini, “Rasa sakit telah menjadi kenikmatan, pengorbanan menjadi indah dan jiwa menjadi tidak berharga”. Kata itu yang pernah diucapkan seorang pejuang Palestina terkenal yang telah gugur, Mahmud Abu Hanud. Tujuan yang kita tetapkan dalam kebersamaan terbukti telah menjadikan kita lebih kuat, tabah, kokoh menghadapi rintangan apapun juga.

Dalam perjalanan dakwah yang panjang, kita memerlukan satu bekal yaitu sikap lapang dada, nafas panjang dan mudah memaafkan. Seperti orang-orang shalih terdahulu yang tak peduli dengan suasana getir yang mereka terima dalam menjalankan ketaatan. Seperti para pejuang yang tak pernah tersengal-sengal oleh kejaran musuh-musuhnya di Jalan Allah. Seperti Rasulullah SAW yang tak pernah merasa tertekan dengan penghinaan atau cacian orang-orang sekirarnya, dalam menjalani misi kenabiannya.

Sungguh luar biasa sikap orang-orang shalih dalam memandang dan mengukur penghinaan orang lain terhadap dirinya. Ibrahim An Nakh’I, suatu hari berjalan bersama sahabatnya, seorang buta. Setelah beberapa lama menyusuri jalan, orang buta itu mengatakan, “Ya Ibrahim, orang-orang yang melihat kita mengatakan, “itu orang buta dan pincang”. Ibrahim dengan tenang lalu mengatakan, “Kenapa engkau begitu terbebani memikirkannya? Jika mereka berdosa karena menghina kita sedangkan kita mendapat pahala, lalu kenapa?

Fudhail bin Iyadh, tokoh ulama yang terkenal ketaqwaannya di zaman generasi Tabi’in bercerita bahwa suatu ketika saat berada di Masjidil Haram, ia didatangi seseorang yang menangis. Fudhail bertanya, “kenapa engkau menangis?” Orang itu menjawab, “Aku kehilangan beberapa dinar dan aku tahu ternyata uangku dicuri”.

Fudhail mengatakan “Apakah engkau menangis hanya karena dinar? Sungguh mengejutkan jawaban orang itu. Ia menjawab, ”Tidak, aku menangis karena aku tahu bahwa kelak aku akan berada di hadapan Allah, dengan pencuri itu. Aku kasihan dengan pencuri itu, itulah yang menyebabkan aku menangis…”

Mereka yang dirahmati Allah, menyikapi berbagai persoalan dengan lapang dada. Mungkin saja mereka berduka, bersedih, kecewa atau barangkali tersulut sedikit kemarahannya. Tetapi mereka berhasil menguasai hatinya kembali. Hati mereka tetap ridha, mata mereka tetap teduh, ketenangan mereka sama sekali tidak terusik. Betapa indahnya.

Kisah-kisah itu harusnya membuat kita mengerti bahwa jika kita tidak lapang dada dan tidak mudah bersabar, kita pasti akan menjadi orang yang paling menderita didunia ini sebab penderitaan terbesar adalah jiwa yang cepat goyah dan bimbang saat menghadapi sesuatu yang sebenarnya remeh.

Penderitaan paling berbahaya adalah ketika tujuan hidup kita yang demikian agung, terbentur oleh keadaan hidup yang sesungguhnya sepele. Persoalan remeh, yang kita lihat secara keliru, kemudian mengakibatkan sempitnya dada, nafas tersengal, kesal hati, murung wajah, hati yang bergemuruh duka cita hingga istirahat terganggu, pikiran tidak tentu arah.

JIka itu yang terjadi, takkan ada amal-amal besar yang bisa dilakukan. Lantaran amal-amal besar hanya lahir dari jiwa yang tenang, hati yang lapang, penuh ridha, pikiran yang jernih. Itu sebabnya Syaikh Musthafa Masyhur mensyaratkan sifat ‘nafasun thawiil’ atau nafas panjang yang harus ada dalam diri pejuang Islam. Baginya, jalan perjuangan yang terjal dan panjang tak mungkin bisa dilewati oleh orang-orang yang ber’nafas pendek’ alias mudah goyah dan tidak sabar.

Apa rahasia lapang dada yang dimiliki para salafushalih itu? Salahsatunya karena wawasan hidup mereka yang luas. Orang yang sempit wawasan adalah orang yang takut dengan perkara-perkara kecil, sangat takut dengan peristiwa remeh dan mudah marah dengan kata-kata yang tidak berkenan di hatinya.

Kita bisa seperti mereka. Jika kita tahu dan sadar ada sasaran besar dan tujuan maha agung yang akan kita capai bersama di ujung jalan ini. Ada yang maha penting dari peristiwa-peristiwa apapun dijalan ini. Ada yang maha mulia dari berbagai kejadian-kejadian apapun di jalan ini.

 Dari buku: “MENCARI MUTIARA DI DASAR HATI” Catatan Perenungan Ruhani Seri I, karya: Muhammad Nursani (Tarbawi Press)

Bukankah jalan ini sangat panjang dan berliku, ada saja onak duri yang menghalangi, ada saja kenikmatan duniawi yang begitu menggoda, sehingga kita(aku) sering tanpa disadari masuk kedalamnya..
Ya Rabbi kekalkanlah cinta ini hanya untukMu...
Tunjukkan kami jalan yang lurus..
Perbaiki ruhiyah kami..
Jaga keistiqomahan kami..
dan tetapkanlah kami bersama orang-orang yang mencintaiMu..